Jumat, 28 Februari 2014

Imam Bonjaol Pahlawan Indonesia Sumatra Barat

Tuanku Imam Bonjol (lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatra Barat 1772 - wafat dalam pengasingan dan dimakamkan di Lotak, Pineleng, Minahasa, 6 November 1864), bernama asli Muhammad Shahab atau Petto Syarif, adalah salah seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan Belanda, peperangan itu dikenal dengan nama Perang Padri di tahun 1803-1837. Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973 .

Tuanku Imam Bonjol dilahirkan di Bonjol, Pasaman, Indonesia pada tahun 1772.Beliau kemudiannya meninggal dunia di Manado, Sulawesi pada 6 November 1864 dalam usia 92 tahun dan dimakamkan di Khusus Lotak, Minahasa.
Tuanku Imam Bonjol bukanlah seorang Minahasa. Dia berasal dari Sumatera Barat. "Tuanku Imam Bonjol" adalah sebuah gelaran yang diberikan kepada guru-guru agama di Sumatra. Nama asli Imam Bonjol adalah Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin.

Dia adalah pemimpin yang paling terkenal dalam gerakan dakwah di Sumatera, yang pada mulanya menentang perjudian, laga ayam, penyalahggunaan dadah, minuman keras, dan tembakau, tetapi kemudian mengadakan penentangan terhadap penjajahan Belandayang memiliki semboyan Gold, Glory, Gospel sehingga mengakibatkan perang Padri (1821-1837).

Mula-mula ia belajar agama dari ayahnya, Buya Nudin. Kemudian dari beberapa orang ulama lainya, seperti Tuanku Nan Renceh. Imam Bonjol adalah pengasas negeri Bonjol.

Pertentangan kaum Adat dengan kaum Paderi atau kaum agama turut melibatkan Tuanku Imam Bonjol. Kaum paderi berusaha membersihkan ajaran agama islam yang telah banyak diselewengkan agar dikembalikan kepada ajaran agama islam yang murni.

Golongan adat yang merasa terancam kedudukanya, mendapat bantuan dari Belanda. Namun gerakan pasukan Imam Bonjol yang cukup tangguh sangat membahayakan kedudukan Belanda. Oleh sebab itu Belanda terpaksa mengadakan perjanjian damai dengan Tuanku Imam Bonjol pada tahun 1824. Perjanjian itu disebut "Perjanjian Masang". Tetapi perjanjian itu dilanggar sendiri oleh Belanda dengan menyerang Negeri Pandai Sikat.

Pertempuran-pertempuran berikutnya tidak banyak bererti, kerena Belanda harus mengumpul kekuatanya terhadap Perang Diponogoro. Tetapi setelah Perang Diponogoro selesai, maka Belanda mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk menaklukan seluruh Sumatra Barat.

Imam Bonjol dan pasukanya tak mahu menyerah dan dengan gigih membendung kekuatan musuh. Namun Kekuatan Belanda sangat besar, sehingga satu demi satu daerah Imam Bonjol dapat direbut Belanda. Tapi tiga bulan kemudian Bonjol dapat direbut kembali. Ini terjadi pada tahun 1832.

Belanda kembali mengerahkan kekuatan pasukanya yang besar. Tak ketinggalan Gabernor Jeneral Van den Bosch ikut memimpin serangan ke atas Bonjol. Namun ia gagal. Ia mengajak Imam Bonjol berdamai dengan maklumat "Palakat Panjang", Tapi Tuanku Imam curiga.

Untuk waktu-wakyu selanjutnya, kedudukan Tuanku Imam Bonjol bertambah sulit, namun ia tak mahukan untuk berdamai dengan Belanda.Tiga kali Belanda mengganti panglima perangnya untuk merebut Bonjol, sebuah negeri kecil dengan benteng dari tanah liat. Setelah tiga tahun dikepung, barulah Bonjol dapat dikuasai, iaitu pada tanggal 16 Ogos 1837.

Pada tahun 1837, desa Imam Bonjol berjaya diambil alih oleh Belanda, dan Imam Bonjol akhirnya menyerah kalah. Dia kemudian diasingkan di beberapa tempat, dan pada akhirnya dibawa ke Minahasa. Dia diakui sebagai pahlawan nasional.

Sebuah bangunan berciri khas Sumatera melindungi makam Imam Bonjol. Sebuah relief menggambarkan Imam Bonjol dalam perang Padri menghiasi salah satu dinding. Di samping bangunan ini adalah rumah asli tempat Imam Bonjol tinggal selama pengasingannya

Riwayat Perjuangan

Tak dapat dimungkiri, Perang Paderi meninggalkan kenangan heroik sekaligus traumatis dalam memori bangsa. Selama sekitar 20 tahun pertama perang itu (1803-1821) praktis yang berbunuhan adalah sesama orang Minang dan Mandailing atau Batak umumnya.

Campur tangan Belanda dalam perang itu ditandai dengan penyerangan Simawang dan Sulit Air oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema awal April 1821 atas perintah Residen James du Puy di Padang. Kompeni melibatkan diri dalam perang itu karena "diundang" kaum Adat.

Pada 21 Februari 1821, kaum Adat resmi menyerahkan wilayah darek (pedalaman Minangkabau) kepada Kompeni dalam perjanjian yang diteken di Padang, sebagai kompensasi kepada Belanda yang bersedia membantu melawan kaum Paderi. Perjanjian itu dihadiri juga oleh sisa keluarga Dinasti Pagaruyung di bawah pimpinan Sultan Muningsyah yang selamat dari pembunuhan oleh pasukan Paderi yang dipimpin Tuanku Pasaman di Koto Tangah, dekat Batu Sangkar, pada 1815 (bukan 1803 seperti disebut Parlindungan, 2007:136-41).

Perlawanan yang dilakukan oleh pasukan paderi cukup tangguh sehingga sangat menyulitkan Belanda untuk menundukkannya. Oleh sebab itu Belanda terpaksa mengadakan perjanjian damai dengan Tuanku Imam Bonjol pada tahun 1824. Gubernur Jendral Johannes van den Bosch pernah mengajak Tuanku Imam Bonjol berdamai dengan maklumat "Perjanjian Masang", karena disaat bersamaan Batavia juga kehabisan dana dalam menghadapi peperangan lain di Eropah dan Jawa seperti Perang Diponegoro. Tetapi perjanjian itu dilanggar sendiri oleh Belanda dengan menyerang Negeri Pandai Sikat.

Namun, sejak awal 1833 perang berubah menjadi perang antara kaum Adat dan kaum Paderi melawan Belanda, kedua pihak bahu-membahu melawan Belanda, Pihak-pihak yang semula bertentangan akhirnya bersatu melawan Belanda. Diujung penyesalan muncul kesadaran, mengundang Belanda dalam konflik justru menyengsarakan masyarakat Minangkabau itu sendiri . Bersatunya kaum Adat dan kaum Paderi ini dimulai dengan adanya kompromi yang dikenal dengan nama Plakat Tabek Patah yang mewujudkan konsensus Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah (Adat berdasarkan Agama, Agama berdasarkan Kitabullah (Al-Qur'an)).

Dalam MTIB, terefleksi ada rasa penyesalan Tuanku Imam Bonjol atas tindakan kaum Paderi atas sesama orang Minang dan Mandailing. Tuanku Imam Bonjol sadar, perjuangannya sudah melenceng dari ajaran agama. "Adopun hukum Kitabullah banyak lah malampau dek ulah kito juo. Baa dek kalian?" (Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh kita. Bagaimana pikiran kalian?), ungkap Tuanku Imam Bonjol seperti tertulis dalam MTIB (hal 39).

Penyesalan dan perjuangan heroik Tuanku Imam Bonjol bersama pengikutnya melawan Belanda yang mengepung Bonjol dari segala jurusan selama sekitar enam bulan (16 Maret-17 Agustus 1837) juga dapat menjadi apresiasinya akan kepahlawanannya menentang penjajahan[3]. — seperti rinci dilaporkan G. Teitler yang berjudul Akhir Perang Paderi: Pengepungan dan Perampasan Bonjol 1834-1837.

Belanda menyerang benteng kaum Paderi di Bonjol dengan tentara yang dipimpin oleh jenderal dan para perwira Belanda, tetapi yang sebagian besar terdiri dari berbagai suku, seperti Jawa, Madura, Bugis, dan Ambon. Dalam daftar nama para perwira pasukan Belanda adalah Mayor Jendral Cochius, Letnan Kolonel Bauer, Mayor Sous, Kapten MacLean, Letnan Satu Van der Tak, Pembantu Letnan Satu Steinmetz dan seterusnya, tetapi juga nama Inlandsche (pribumi) seperti Kapitein Noto Prawiro, Indlandsche Luitenant Prawiro di Logo, Karto Wongso Wiro Redjo, Prawiro Sentiko, Prawiro Brotto, dan Merto Poero.

Terdapat 148 perwira Eropa, 36 perwira pribumi, 1.103 tentara Eropa, 4.130 tentara pribumi, Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (pasukan pembantu Sumenap alias Madura). Ketika dimulai serangan terhadap benteng Bonjol, orang-orang Bugis berada di bagian depan menyerang pertahanan Paderi.

Dari Batavia didatangkan terus tambahan kekuatan tentara Belanda. Tanggal 20 Juli 1837 tiba dengan Kapal Perle di Padang, Kapitein Sinninghe, sejumlah orang Eropa dan Afrika, 1 sergeant, 4 korporaals dan 112 flankeurs. Yang belakangan ini menunjuk kepada serdadu Afrika yang direkrut oleh Belanda di benua itu, kini negara Ghana dan Mali. Mereka disebut Sepoys dan berdinas dalam tentara Belanda.

Terimakasih tunggi info selanjunya kwann,,

Jumat, 21 Februari 2014

Kpten Patimora Pahlawn Nasional Indonesia

Nama Lengkap : Kapitan Pattimura
Alias : Pattimura | Thomas Matulessy
Profesi : -
Agama : Islam
Tempat Lahir : Hualoy, Hualoy, Seram Selatan, Maluku
Tanggal Lahir : Minggu, 8 Juni 1783
Zodiac : Gemini
Warga Negara : Indonesia

Pattimura lahir pada tanggal 8 Juni 1783 dari ayah Frans Matulesi dengan Ibu Fransina Silahoi. Munurut M. Sapidja ( penulis buku sejarah pemerintahan pertama) mengatakan bahwa “pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau merupakan nama orang di negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan"

Ia adalah pahlawan yang berjuang untuk Maluku melawan VOC Belanda. Sebelumnya Pattimura adalah mantan sersan di militer Inggris. pada tahun 1816 Inggris bertekuk lutut kepda belanda. Kedatangan kembali kolonial Belanda pada tahun 1817 mendapat tantangan keras dari rakyat. Hal ini disebabkan karena kondisi politik, ekonomi, dan hubungan kemasyarakatan yang buruk selama dua abad. Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata di bawah pimpinan Kapitan Pattimura. 

Sebagai panglima perang, Kapitan Pattimura mengatur strategi perang bersama pembantunya. Sebagai pemimpin dia berhasil mengoordinir raja-raja dan patih dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan, memimpin rakyat, mengatur pendidikan, menyediakan pangan dan membangun benteng-benteng pertahanan. Dalam perjuangan menentang Belanda ia juga menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi dan Jawa. Perang Pattimura hanya dapat dihentikan dengan politik adu domba, tipu muslihat dan bumi hangus oleh Belanda.

Di Saparua, dia dipilih oleh rakyat untuk memimpin perlawanan. Untuk itu, ia pun dinobatkan bergelar Kapitan Pattimura. Pada tanggal 16 Mei 1817, suatu pertempuran yang luar biasa terjadi. Rakyat Saparua di bawah kepemimpinan Kapitan Pattimura tersebut berhasil merebut benteng Duurstede. Tentara Belanda yang ada dalam benteng itu semuanya tewas, termasuk Residen Van den Berg.

Pasukan Belanda yang dikirim kemudian untuk merebut kembali benteng itu juga dihancurkan pasukan Kapitan Pattimura. Alhasil, selama tiga bulan benteng tersebut berhasil dikuasai pasukan Kapitan Patimura. Namun, Belanda tidak mau menyerahkan begitu saja benteng itu. Belanda kemudian melakukan operasi besar-besaran dengan mengerahkan pasukan yang lebih banyak dilengkapi dengan persenjataan yang lebih modern. Pasukan Pattimura akhirnya kewalahan dan terpukul mundur.

Di sebuah rumah di Siri Sori, Kapitan Pattimura berhasil ditangkap pasukan Belanda. Bersama beberapa anggota pasukannya, dia dibawa ke Ambon. Di sana beberapa kali dia dibujuk agar bersedia bekerjasama dengan pemerintah Belanda namun selalu ditolaknya.

Para tokoh pejuang akhirnya dapat ditangkap dan mengakhiri pengabdiannya di tiang gantungan pada tanggal 16 Desember 1817 di kota Ambon. Atas kegigihannya memperjuangkan kemerdekaan, Kapitan Pattimura dikukuhkan sebagai “Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan” oleh pemerintah Republik Indonesia.

Jumat, 14 Februari 2014

SULTAN AGENG TIRTAYASA Pahlawan Jawa Barat

SULTAN AGENG TIRTAYASA
Sultan Ageng Tirtayasa pituin urang Banten. Lahir taun 1631. Jenengan aslina Abu’l Fath Abdulfattah. Anjeunna diangkat jadi Sultan Banten taun 1651. Nalika yuswa anjeunna 20 taun. Katelah Sultan Ageng Tirtayasa, ku margi saparantos sepuh anjeunna linggih di Karaton Tirtayasa.

Dina mangsa anjeunna jeneng sultan, Banten téh kaasup kasultanan anu maju. Maju dina sagala widangna, boh agamana, boh ékonomina. Kitu deui jeung widang pertahanan kaamananana. Banten aya dina mangsa puncak kajayaanana.

Dina widanga agama, Banten jadi puseur kagiatan nyebarkeun agama Islam. Utamana di tungtung Pulo Jawa Beulah kulon jeung Pulo Sumatra Beulah kidul. Éta kagiatan téh diluluguan ku Syéh Yusuf Tajul Khalwati, anu harita jadi Mufti Karajaan Banten.

Pikeun ngaronjatkeun kahirupan rahayatna, Sultan Ageng nyieun sawah-sawah anyar. Ngahadéan sawatara walungan anu aya di Kasultanan Banten. Salian ti pikeun nyaian tatanén, éta walungan-walungan téh bisa dipaké patalimarga ngagunakeun parahu.

Palabuan Banten kaasup palabuan anu gedé Kapal-kapal dagang ti mancanagara larsup ka Palabuan Ban¬ten. Aya anu ti Nagri Cina, India, malah anu ti Éropa ogé aya. Éta kapal-kapal téh mawa rupa-rupa barang, anu engkéna ditukeurkeun jeung hasil bumi ti Banten. Pangpangna mah sahang atawa pedes katut rempah-rempah lianna.

Kaayaan sarupa kitu téh, henteu pikaresepeun pikeun Kumpeni mah. Kumpeni téh nyaéta pausahaan bangsa Walanda anu disebut VOC téa. Harita Kumpeni geus nyieun benténg di Batavia. Ku urang Sunda mah sok disebut Batawi, anu ayeuna jadi Jakarta.

Ti Batavia Kumpeni museurkeun kagiatanana pikeun ngamonopoli perdagangan di Nusantara. Kahayang Kumpeni, sakur nagara anu aya di Nusantara, ulah ngayakeun hubungan dagang jeung nagara séjén. Ngan kudu jeung manéhna baé. Utamana mah jual-beuli rempah-rempah kayaning cengkéh, pala, jeung pedes.

Upama aya nagara anu nolak kana kahayangna, diperangan. Nepi ka loba nagara anu dijajah atawa serah bongkokan ka Kumpeni. Ari sababna, Kumpeni teh boga loba soldaduna sarta tohaga pakarangna.

Kumpeni hayang ngamonopoli perdagangan di Palabuan Banten. Kahayangna mah urang Banten kudu ngajual hasil bumi jeung barang lianna ka Kumpeni. Kitu deui kapal-kapal asing anu rék meuli barang ti Palabuan Banten, meulina téh kudu ka Kumpeni.

Kahayang Kumpeni kitu téh ditolak sapajodogan ku Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Ageng henteu gimir, henteu galideur. Mémang ti saméméhna ogé Sultan Ageng téh henteu resepeun ka Kumpeni. Ari sababna, Kumpeni mah pelit jeung licik. Mindeng ngarempak jangji, asal nguntungkeun keur pihakna baé. Malah Kumpeni téh dianggap musuh utama urang Banten.

Kawas anu ngahajakeun pisan urang Banten téh. Ti harita terus baé ngaganggu Kumpeni, boh di darat boh di laut. Di darat, soldadu Kumpeni anu keur patroli, dicaregatan ku gerilya Banten. Henteu cukup ku kitu, loba pos-pos Kumpeni diserang ku pasukan Banten.

Di laut ogé kitu. Kapal-kapal Kumpeni anu keur patroli mindeng dicegat ku armada Banten. Dibuburak sina jauh ti wilayah Kasultanan Banten. Ari kapal-kapalna anu mawa barang dagangan, mindeng dibajo ku rahayat Banten. Kituna téh ngan ka kapal-kapal Walanda wé. Da ari ka kapal-kapal nagara séjén mah henteu.

Nénjo kaayaan kitu, Kumpeni ogé henteu cicingeun. Pikeun males serangan-serangan rahayat Banten téa, Kumpeni ngablokadeu Palabuan Bantun. Maksudna sangkan kapal-kapal ti mancanagara ulah aya anu asup ka Palabuan Banten. Kitu deui kapal-kapal dagang Banten, ulah nepi ka bisa kaluar ti palabuanana.

Tapi armada Banten bisa norobos eta blokadeu. Kapal-kapal Kumpeni anu ngablokadeu téa, diperangan ku armada Banten. Kumpeni katétér. Ahirna ngacir ninggalkeun wilayah laut Banten. Mémang, harita mah Banten téh mibanda angkatan laut anu kawilang tanggoh.

Kumpeni beuki hésé asup ka Palabuan Banten. Komo deui Sultan Ageng Tirtayasa geus ngayakeun hubungan sarta gawé bareng jeung padagang-padagang Éropah lianna. Kapal-kapal dagang Inggris jeung Dénmark bisa bébas meulian sahang di sakuliah Kasultanan Banten.

Éta kajadian téh matak gimir paragegedén Banten di Batavia. Maranéhna mimiti geumpeur nyanghareupan pasukan Banten anu gedé wawanén. Kumpeni nyieun taktik anyar. Tuluy baé ngirim utusan ka Banten pikeun badami jeung Sultan Ageng Tirtayasa

Utusan Kumpeni datangna ka Surosowan téh henteu léngoh, tapi rébo ku babawaan. Mawa rupa-rupa barang berharga kayaning emas, inten, berlian, jeung supenir lianna. Maksudna mah hadiah pikeun Sultan Ageng Tirtayasa.
Utusan Kumpeni téh ngajak babadamian. Ti dinya Kumpeni ngasongkeun sababaraha usul. Tapi usulna ditolak ku Sultan Ageng. Ari sababna, anu diajukeunana leuwih loba ngarugikeun pihak Banten. Lamun éta usul ditarima, ceuk pamikir Sultan Ageng, kamerdékaan jeung kadaulatan Banten bisa leu¬ngit.
Utusan Kumpeni balik deui ka Batavia bari henteu mawa hasil nanaon. Anu puguh mah, ku ditolakna usul Kumpeni téh, sarua baé jeung nangtang perang. Kaayaan beuki rengkeng baé. Tapi Sultan Ageng henteu gimir ku Kumpeni, anu dipikasieun ku karajaan séjén di Nusantara.

Sultan Ageng nyiapkeun pasukanana pikeun nyanghareupan sagala kamungkinan. Pasukanana ditambahan deui, boh di darat boh di laut. Malah henteu saeutik rahayat Banten anu sukaréla jadi prajurit pikeun ngabéla lemah caina.

Pasukan Banten henteu eureun-eureun ngaganggu Kumpeni. Nepi ka hiji mangsa, dua kapal patroli Kumpeni pasangrok jeung armada Banten di tengah laut. Der baé perang. Kapal patroli Kumpeni teu bisa ngayonan armada Banten. Kapal patroli Kumpeni diruksan sarta dicaremkeun ku armada Banten.

Barang ngadéngé éta béja, gegedén Kumpeni di Batavia kacida ambekna. Tuluy baé atuh mepek balad. Maksudna arék ngarurug Banten. Ari tentara Kumpeni téh lolobana mah bangsa urang kénéh. Anu matak sok disarebut Walanda Hideung. Da urang Walandana mah jaradi pamingpin pasukanana.
Banten dirurug ku pasukan Kumpeni ti darat jeung ti laut. Tapi pasukan Banten enggeus siap pikeun nyanghareupanana. Kapal-kapal perang Kumpeni dicegat ku armada Banten di tengah laut. Di laut Kumpeni kariripuhan, nepi ka kudu ngadatangkeun kapal perang tambahan ti Maluku.

Sanggeus kitu mah, kakara aya sababaraha kapal perang Kumpeni anu bisa lolos ngadeukeutan puseur dayeuh Kasultanan Banten. Tapi angger baé kariripuhan. Ari sababna, geus disampakkeun belasan mariem anu ngadangong di basisir Banten. Nepi ka loba kapal perang Kumpeni anu ruksak dihantem pélor mariem.

Perang rongkah ogé lumangsung di darat. Anu pangrongkahna mah perang di tapel wates Banten-Batavia, nyaéta di wewengkon Angké, Tangerang. Perang ragot méh unggal poé. Bangké patulayah di mana-mana. Tapi lolobana mah bangké prajurit Kumpeni anu disebut Walanda Hideung téa.

Perang salila sataun. Can aya anu éléh jeung anu meunang. Ngan umumna mah paraprajurit Banten bisa ngadéséh pasukan Kumpeni. Padahal pasukan Kumpeni leuwih loba jeung leuwih tohaga pakarangna.
Nénjo kaayaan kitu, Kumpeni ngusulkeun deui babadamian. Ari sababna, salian ti loba prajuritna anu korban téh, Kumpeni kudu ngaluarkeun waragada perang anu saeutik. Mangkaning anu kudu disanghareupan ku Kumpeni téh lain Banten wungkul.

Ayeuna mah usul Kumpeni téh ditarima ku Sultan Ageng. Banten jeung Kumpeni ngayakeun gencatan senjata. Sultan Ageng narima kana éta usul, dumasar kana pertimbangan, karunya ka rahayatna anu kahirupanana balangsak alatan perang.

Hanjakal, rapihna Banten jeung Kumpeni téh ngan dua belas taun. Hubungan Sultan Ageng jeung Kumpeni téh rengkeng deui. Ari sababna, Kumpeni ngayakeun rupa-rupa réka perdaya pikeun ngawasa Kasultanan Banten. Ngan ayeuna mah taktikna béda. Kumpeni mimiti ngajalankeun pulitik adu domba.

Ayeuna mah salian ti ngalawan Kumpeni téh, Sultan Ageng ogé kudu ngalawan pasukan Sultan Haji deuih. Ari Sultan Haji téh putra Sultan Ageng, anu digadangkeun baris jadi Sultan Banten. Sanajan Sultan Haji téh putra pituin Sultan Ageng, tapi watek jeung pasipatanana béda pisan jeung bapana. Sultan Haji resep curak-curak jeung sukan-sukan. Malah dina tingkah paripolah jeung campur-gaulna ogé, Sultan Haji mah leuwih deukeut ka bangsa Walanda ti batan jeung bangsana sorangan. Sikepna ogé henteu kukuh-pengkuh cara Sultan Ageng deuih.

Kaayaan sarupa kitu téh, dipaké kasempetan ku Kum¬peni pikeun ngajalankeun pulitik adu domba téa. Kumpeni ngadeukeutan Sultan Haji. Diwawoy ku rupa-rupa kasenangan lahir. Malah diangsonan supaya baha ka nu jadi kolotna, nyaéta Sultan Ageng.

Tarékah Kumpeni téh hasil. Ahirna Sultan Haji leuwih deukeut ka Kumpeni tibatan ka bangsana surangan. Leuwih percaya ka Kumpeni tibatan ka bapana sorangan. Lamun aya nanaon, Sultan Haji sok ngajak badamina téh ka bangsa Walanda. Komo sanggeus Sultan Ageng eureun tina mancén ngurus pamaréntahan sapopoé mah.

Éta pancén dipasrahkeun ka Sultan Haji. Sultan Ageng ukur nyekel urusan jero karaton, di Karaton Tirtayasa. Ari Sultan Haji, angger ngaratonna di Karaton Surosowan. Puguh baé, Kum¬peni téh beuki laluasa enggoning ngajalankeun pulitik adu¬dornbana téa.

Mireungeuh kaayaan kitu, Sultan Ageng kacida hanjeluna. Kumpeni téh musuh gerot Sultan Ageng. Malah bisa disebutkeun sagala kawijaksanaan pamaréntahanana ogé, ditujulkeun pikeun nyanghareupan Kumpeni. Ari ku nu jadi anak bet kalah diraketan.

Diomongan mah diomongan, kalah bosen anu ngomongan. Ti batan nurut, kalah ka ngalawan ku punduk. Nepi ka hiji mangsa mah Sultan Ageng béak kasaharanana. Pék mepek balad di Tirtayasa, terus nyerang Sultan Haji di Surosowan. Maksudna taya lian, pikeun ngawarah ka nu jadi anak.
Tapi Sultan Haji henteu surti. Manéhna kalah ngalolos ti Surosowan, ménta bantuan ka Kumpeni di Batavia. Puguh wé pikeun Kumpeni mah asa mobok manggih gorowong. Da mémang kitu kahayangna. Paménta Sultan Haji ditedunan.

Der baé perang di Surosowan. Perang antara anak jeung bapa. Perang sadulur, pasukan Banten anu satia ka Sultan Ageng ngalawan pasukan Banten anu satia ka Sultan Haji. Pasukan Sultan Ageng kadéséh, sabab éléh loba ku pasukan Sultan Haji anu dibantuan ku pasukan Kumpeni.

Sultan Ageng jeung pasukanana ngalolos ka Leuweung Kranggan. Sultan Ageng diba¬réngan ku Pangéran Purbaya, adina Sultan Haji, jeung sababaraha kapetenganana saperti Syéh Yusuf, Pangéran Kidul, jeung Pangéran Kulon.

Di Leuweung Kranggan, Sultan Ageng saparakanca terus ngayakeun per-lawanan ka Kumpeni, ngagunakeun taktik gerilya. Nya teu burung kariripuhan ogé Kumpeni téh. Tuluy bae nyieun siasat anyar. Kumpeni nitah ka Sultan Haji sangkan nyuratan ka bapana.

Eusi éta surat téh ménta sangkan Sultan Ageng daék balik ka Surosowan. Dina éta surat ditétélakeun, Sultan Haji ngajamin baris méré kabébasan jeung kamerdékaan ka Sultan Ageng. Sultan Ageng daék nohonan éta pameredih, sabab percaya yén anakna moal jalir jangji.

Barang Sultan Ageng nepi ka Surosowan, harita kénéh ditangkep ku Kum¬peni. Terus dibawa ka Batavia sarta dipanjara di hiji benténg anu tohaga. Nepi ka wapatna di dinya. Jadi, Sultan Ageng mah beunangna téh ku réka-perdaya Kumpeni Walanda. Sultan Ageng wapat dina taun 1683 sarta dimakamkeun di deukeut Masjid Agung Banten.

Jumat, 07 Februari 2014

Sultan Mahmud Badaruddin Pahlawan indoneisa

Sultan Mahmud Badaruddin II (l: Palembang, 1767, w: Ternate, 26 November 1862) adalah pemimpin kesultanan Palembang-Darussalam (1803-1819), setelah masa pemerintahan ayahnya, Sultan Muhammad Bahauddin (1776-1803) .

Dalam masa pemerintahannya, ia beberapa kali memimpin pertempuran melawan Inggris dan Belanda, di antaranya yang disebut Perang Menteng. Pada tangga 14 Juli 1821, ketika Belanda berhasil menguasai Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin II dan keluarga ditangkap dan diasingkan ke Ternate.

Namanya kini diabadikan sebagai nama bandara internasional di Palembang, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II dan Mata uang rupiah pecahan 10.000-an yang dikeluarkan oleh bamk Indonesia pada tanggal 20 Oktober 2005. Penggunaan gambar SMB II di uang kertas ini sempat menjadi kasus pelanggaran hak cipta, diduga gambar tersebut digunakan tanpa izin pelukisnya, namun kemudian terungkap bahwa gambar ini telah menjadi hak milik panitia penyelenggara lomba lukis wajah SMB II.

Konflik dengan Inggris
Sejak timah ditemukan di Bangka pada pertengahan abad ke-18, Palembang dan wilayahnya menjadi incaran Britania dan Belanda. demi menjalin kontrak dagang, bangsa Eropa berniat menguasai Palembang. Awal mula penjajahan bangsa Eropa ditandai dengan penempatan Loji (kantor dagang). Di Palembang, loji pertama Belanda dibangun di Sungai Aur (10 Ulu).

Orang Eropa pertama yang dihadapi Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) adalah Sir Thomas Stamford Raffles. Raffles tahu persis tabiat Sultan Palembang ini. Karena itu, Raffles sangat menaruh hormat di samping ada kekhawatiran sebagaimana tertuang dalam laporan kepada atasannya, Lord Minto, tanggal 15 Desember 1810:

Bersamaan dengan adanya kontak antara Britania dan Palembang, hal yang sama juga dilakukan Belanda. Dalam hal ini, melalui utusannya, Raffles berusaha membujuk SMB II untuk mengusir Belanda dari Palembang (surat Raffles tanggal 3 Maret 1811).

Dengan bijaksana, SMB II membalas surat Raffles yang intinya mengatakan bahwa Palembang tidak ingin terlibat dalam permusuhan antara Britania dan Belanda, serta tidak ada niatan bekerja sama dengan Belanda. Namun akhirnya terjalin kerja sama Britania-Palembang, di mana pihak Palembang lebih diuntungkan.

Pada tanggal 14 September 1811 terjadi peristiwa pembumihangusan dan pembantaian di loji Sungai Alur. Belanda menuduh Britanialah yang memprovokasi Palembang agar mengusir Belanda. Sebaliknya, Britania cuci tangan, bahkan langsung menuduh SMB II yang berinisiatif melakukannya.

Raffles terpojok dengan peristiwa loji Sungai Aur, tetapi masih berharap dapat berunding dengan SMB II dan mendapatkan Bangka sebagai kompensasi kepada Britania. Harapan Raffles ini tentu saja ditolak SMB II. Akibatnya, Britania mengirimkan armada perangnya di bawah pimpinan Gillespie dengan alasan menghukum SMB II. Dalam sebuah pertempuran singkat, Palembang berhasil dikuasai dan SMB II menyingkir ke Muara Rawas, jauh di hulu Sungai Musi.

Setelah berhasil menduduki Palembang, Britania merasa perlu mengangkat penguasa boneka yang baru. Setelah menandatangani perjanjian dengan syarat-syarat yang menguntungkan Britania, tanggal 14 Mei 1812 Pangeran Adipati (adik kandung SMB II) diangkat menjadi sultan dengan gelar Ahmad Najamuddin II atau Husin Diauddin. Pulau Bangka berhasil dikuasai dan namanya diganti menjadi Duke of York's Island. Di Mentok, yang kemudian dinamakan Minto, ditempatkan Meares sebagai residen.

Meares berambisi menangkap SMB II yang telah membuat kubu di Muara Rawas. Pada 28 Agustus 1812 ia membawa pasukan dan persenjataan yang diangkut dengan perahu untuk menyerbu Muara Rawas. Dalam sebuah pertempuran di Buay Langu, Meares tertembak dan akhirnya tewas setelah dibawa kembali ke Mentok. Kedudukannya digantikan oleh Mayor Robison.

Belajar dari pengalaman Meares, Robison mau berdamai dengan SMB II. Melalui serangkaian perundingan, SMB II kembali ke Palembang dan naik takhta kembali pada 13 Juli 1813 hingga dilengserkan kembali pada Agustus 1813. Sementara itu, Robison dipecat dan ditahan Raffles karena mandat yang diberikannya tidak sesuai.

Konflik dengan Belanda
Konvensi London 13 Agustus 1814 membuat Britania menyerahkan kembali kepada Belanda semua koloninya di seberang lautan sejak Januari 1803. Kebijakan ini tidak menyenangkan Raffles karena harus menyerahkan Palembang kepada Belanda. Serah terima terjadi pada 19 Agustus 1816 setelah tertunda dua tahun, itu pun setelah Raffles digantikan oleh John Fendall.

Belanda kemudian mengangkat Herman Warner Muntinghe sebagai komisaris di Palembang. Tindakan pertama yang dilakukannya adalah mendamaikan kedua sultan, SMB II dan Husin Diauddin. Tindakannya berhasil, SMB II berhasil naik takhta kembali pada 7 Juni 1818. Sementara itu, Husin Diauddin yang pernah bersekutu dengan Britania berhasil dibujuk oleh Muntinghe ke Batavia dan akhirnya dibuang ke Cianjur.

Pada dasarnya pemerintah kolonial Belanda tidak percaya kepada raja-raja Melayu. Mutinghe mengujinya dengan melakukan penjajakan ke pedalaman wilayah Kesultanan Palembang dengan alasan inspeksi dan inventarisasi daerah. Ternyata di daerah Muara Rawas ia dan pasukannya diserang pengikut SMB II yang masih setia. Sekembalinya ke Palembang, ia menuntut agar Putra Mahkota diserahkan kepadanya. Ini dimaksudkan sebagai jaminan kesetiaan sultan kepada Belanda. Bertepatan dengan habisnya waktu ultimatum Mutinghe untuk penyerahan Putra Mahkota, SMB mulai menyerang Belanda

Pertempuran melawan Belanda yang dikenal sebagai Perang Menteng (dari kata Muntinghe) pecah pada tanggal 12 Juni 1819. Perang ini merupakan perang paling dahsyat pada waktu itu, di mana korban terbanyak ada pada pihak Belanda. Pertempuran berlanjut hingga keesokan hari, tetapi pertahanan Palembang tetap sulit ditembus, sampai akhirnya Muntinghe kembali ke Batavia tanpa membawa kemenangan.

Belanda tidak menerima kenyataan itu. Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. van der Capellen merundingkannya dengan Laksamana Constantijn Johan Wolterbeek dan Mayjen Hendrik Merkus de Kock dan diputuskan mengirimkan ekspedisi ke Palembang dengan kekuatan dilipatgandakan. Tujuannya melengserkan dan menghukum SMB II, kemudian mengangkat keponakannya (Pangeran Jayaningrat) sebagai penggantinya.

SMB II telah memperhitungkan akan ada serangan balik. Karena itu, ia menyiapkan sistem perbentengan yang tangguh. Di beberapa tempat di Sungai Musi, sebelum masuk Palembang, dibuat benteng-benteng pertahanan yang dikomandani keluarga sultan. Kelak, benteng-benteng ini sangat berperan dalam pertahanan Palembang.

Pertempuran sungai dimulai pada tanggal 21 Oktober 1819 oleh Belanda dengan tembakan atas perintah Wolterbeek. Serangan ini disambut dengan tembakan-tembakan meriam dari tepi Musi. Pertempuran baru berlangsung satu hari, Wolterbeek menghentikan penyerangan dan akhirnya kembali ke Batavia pada 30 Oktober 1819.

SMB II masih memperhitungkan dan mempersiapkan diri akan adanya serangan balasan. Persiapan pertama adalah restrukturisasi dalam pemerintahan. Putra Mahkota, Pangeran Ratu, pada Desember 1819 diangkat sebagai sultan dengan gelar Ahmad Najamuddin III. SMB II lengser dan bergelar susuhunan. Penanggung jawab benteng-benteng dirotasi, tetapi masih dalam lingkungan keluarga sultan.

Setelah melalui penggarapan bangsawan ( susuhunan husin diauddin dan sultan ahmad najamuddin prabu anom )dan orang Arab Palembang melalui pekerjaan spionase, dan tempat tempat pertahanan disepanjang sungai musi sudah diketahui oleh belanda serta persiapan angkatan perang yang kuat, Belanda datang ke Palembang dengan kekuatan yang lebih besar. Tanggal 16 Mei 1821 armada Belanda sudah memasuki perairan Musi. Kontak senjata pertama terjadi pada 11 Juni 1821 hingga menghebatnya pertempuran pada 20 Juni 1821. Pada pertempuran 20 Juni ini, sekali lagi, Belanda mengalami kekalahan. De Kock tidak memutuskan untuk kembali ke Batavia, melainkan mengatur strategi penyerangan.

Bulan Juni 1821 bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Hari Jumat dan Minggu dimanfaatkan oleh dua pihak yang bertikai untuk beribadah. De Kock memanfaatkan kesempatan ini. Ia memerintahkan pasukannya untuk tidak menyerang pada hari Jumat dengan harapan SMB II juga tidak menyerang pada hari Minggu. Pada waktu dini hari Minggu 24 Juni, ketika rakyat Palembang sedang makan sahur, Belanda secara tiba-tiba menyerang Palembang. didepan sekali kapal yang tumpangi saudaranya Susuhunan Husin Diauddin dan Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom dan Susuhunan Ratu Bahmud Badaruddin / SMB 2 merasa serba salah, kalau ditembak saudaranya sendiri yang berada dikapal belanda dan anggapan orang sultan palembang Darussalam sampai hati membunuh saudara karena harta / tahta (Badar Darussalam (bicara) 13:35, 29 September 2009 (UTC)) Serangan dadakan ini tentu saja melumpuhkan Palembang karena mengira di hari Minggu orang Belanda tidak menyerang. Setelah melalui perlawanan yang hebat, tanggal 25 Juni 1821 Palembang jatuh ke tangan Belanda. Kemudian pada 1 Juli 1821 berkibarlah bendera rod, wit, en blau di bastion Kuto Besak, maka resmilah kolonialisme Hindia Belanda di Palembang.

Tanggal 13 Juli 1821, menjelang tengah malam tanggal 3 syawal , SMB II beserta sebagian keluarganya menaiki kapal Dageraad pada tanggal4 syawal dengan tujuan Batavia. Dari Batavia SMB II dan keluarganya diasingkan ke Pulau Ternate sampai akhir hayatnya 26 September 1852. ( selama 35 tahun tinggal di Ternate dan sketsa tempat tinggal Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin / SMB 2 disimpan oleh Sultan Mahmud Badaruddin 3 Prabu Diradja )(Badar Darussalam (bicara) 13:35, 29 September 2009 (UTC)